Sunday, January 17, 2010

cerita sebelum bobo

Abu Nawas Membalas Perbuatan Raja

       Gempar-gempar!
       Di bawah rummah Abu Nawas, terdapat emas dan permata yang tiada ternilai hartanya. Demikian mimpi Baginda Raja tadi malam.
       Tak salah lagi, sejak pagi hari banyak pegawai istana membongkar rumah Abu Nawas. Emas dan permata dicari atas perintah atas perintah langsung Baginda Raja. Tak ada sejengkal tanah pun yang luput digali. Rumah Abu Nawas dan isinya menjadi porak-poranda.
       Setelah membongkar dan menggali, emas dan permata seperti yang diimpikan Baginda Raja tidak ditemukan sedikit pun. Akibat pembongkaran dan penggalian itu, rumah Abu Nawas menjadi hancur. Namun, jangankan mengganti kerugian, Baginda Raja bahkan tidak meminta maaf pada Abu Nawas. Inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.
       Abu Nawas kesal atas perlakuan Baginda Raja yang semena-mena. Berhari-hari, Abu Nawas merenung dan memeras otak. Namun, ia belum manemukan cara untuk membalas perbuatan Baginda Raja.  Nafsu makannya mmulai berkurang. Hingga malam hari ketiga, Abu Nawas tridak juga beranjak dari tempat duduknya. Keesokan harinya, Abu Nnnawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makannya yang sudah basi. Tiba-tiba, ia tertawa riang.
       “Istriku, tolong ambilkan sebatang besi dan kain penutup untuk makananku.”
       “Untuk apa?” tanya istrinya heran.
       “Untuk membalas Baginda Raja,” kata Abu Nawas.
       Dengan muka berseri-seri, Abu Nawas pergi ke istana. Setelah berada di istana, ia membungkuk hormat kepada Baginda Raja dan berkata,
       “Ampun, Tuanku! Hamba menghadap Tuanku Baginda Raja untuk mengadukan kelakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa izin dan berani makan-makanan hamba.”
       “Siapakah tamu-tamu tak diundang itu, wahai Abu Nawas?”
       “Lalat-lalt ini, Tuanku.” Kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.”Kepada siapa lagi hamba mengadukan perlakuan yang t idak adil ini kalau bukan kepada baginda Raja junjungan hamba?”  
       “lallu, keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?” tanya Baginda Raja.
       “Hamba hanya menginginkan izin tertulis  dari baginda Raja sendiri agar hamba bias dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu.”
       Baginda tidak bias menolak permintaan Abu Nawas. Pada saat itu, para menteri sedang berkumpul di istana. Oleh karena itu, dengan terpaksa, baginda Raja membuat surat izin. Isi surat izin itu memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di mana pun mereka hinggap.
       Tanpa menunggu perintah, Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat dipiringnya. Lalat-lalat itu terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukul lalat itu.
       Ada lalat yang hinggap di kaca. Abu Nawas dengan laluasa memukul kaca itu hingga hancur. Kemudian, giliran vas bunga yang indah hancur. Kini, patung hias hancur berantakan. Sebagian dari istana dan perabotannya remuk berantakkan diterjang tonkat besi. Bahkan, Abu Nawas tidak segan-segan memukul lalat yang kebetulan hinggap ditempayan Baginda Raja.
       Baginda tidak bias berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukannya terhadap Abu Nawas dan keluargannya. Setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda Raja banyak yang hancur. Bukan hanya itu, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini, Baginda Raja sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena terhadap Abu Nawas.